Picture of author.

Aravind Adiga

Author of The White Tiger

8+ Works 12,000 Members 517 Reviews 5 Favorited

About the Author

Image credit: Mark Pringle

Works by Aravind Adiga

The White Tiger (2008) 9,673 copies, 422 reviews
Between the Assassinations (2009) 972 copies, 27 reviews
Last Man in Tower (2011) 737 copies, 30 reviews
Selection Day (2016) 344 copies, 19 reviews
Amnesty (2020) 271 copies, 19 reviews
Selection Day (2016) 1 copy

Associated Works

Granta 114: Aliens (2011) — Contributor — 96 copies

Tagged

1001 books (35) 2008 (37) 2009 (66) 21st century (63) Asia (35) audiobook (43) Bangalore (91) book club (34) Booker (88) Booker Prize (293) Booker Prize Winner (102) caste system (66) contemporary (65) contemporary fiction (67) corruption (139) crime (31) Delhi (44) ebook (39) English (34) fiction (1,284) India (1,074) Indian (95) Indian fiction (70) Indian literature (161) Indien (55) Kindle (51) literary fiction (39) literature (85) Mumbai (29) murder (159) novel (207) own (39) poverty (178) read (116) read in 2009 (43) Roman (48) servants (64) short stories (36) to-read (507) unread (53)

Common Knowledge

Birthdate
1974-10-23
Gender
male
Nationality
India
Australia
Birthplace
Chennai, India
Places of residence
Mumbai, India
Madras, India
Mangalore, India
Sydney, New South Wales, Australia
Education
Columbia University (Columbia College)
University of Oxford (Magdalen College)
Canara High School
St. Aloysius High School
James Ruse Agricultural High School
Occupations
journalist
novelist
Agent
David Godwin Associates, Ltd.
Short biography
Aravind Adiga was born in India in 1974 and raised partly in Australia. He attended Columbia and Oxford universities. A former correspondent for Time magazine, he has also been published in the Financial Times. He lives in Mumbai, India.

Members

Reviews

"India adalah negara yang dicetak oleh para manusia setengah matang."

Sesuai dengan blurb, The White Tiger menceritakan tentang pria bernama Balram yang membunuh majikannya sendiri. Balram adalah seorang sopir yang sejak kecilnya putus sekolah hingga bekerja serabutan — menjadi pemukul batu bara, manusia laba-laba, dan pelayan di warung teh. Dia kemudian kursus menjadi sopir untuk kemudian bekerja bersama Ashok. Ashok sendiri sama-sama berasal dari desa kumuh yang sama dengan Balram, tetapi nasib mereka berbeda. Ashok begitu dihormati Balram sampai kemudian dia memutuskan menggorok majikannya sendiri.
Kisah Balram secara sekilas menarik karena menggambarkan kesenjangan sosial dan kondisi carut-marut India. Namun secara tersurat Aravind Adiga menuliskan kritik terhadap Islamofobia yang begitu kuat di India.
Secara blak-blakan, penulis mengatakan empat penyair terbaik di dunia adalah penyair Muslim. Lewat sudut pandang Balram, penulis mengatakan ada tiga penyair Muslim yang dia hormati di dunia, antara lain Rumi, Iqbal, dan Mirza Ghalib. Bahkan, Balram terngiang-ngiang syair salah satu dari mereka:

"Sudah bertahun-tahun kau mencari kuncinya / Padahal pintunya selalu terbuka!"

Aravind Adiga seakan-akan mengatakan secara halus bahwa kesalahan India sulit maju (saat bukunya ditulis) adalah karena mengesampingkan kaum Muslim di tanah mereka. Warga India masih saja bagaikan kaum tersesat yang membutuhkan keajaiban di depan mata untuk bisa bergerak maju, padahal keajaiban itu hadir dalam bentuk umat Muslim di sekitarnya.
Namun sesuai dengan babak akhir buku, tercerminlah bagaimana India akan terus bergerak: berusaha maju dengan konstruksi Islamofobia.
… (more)
 
Flagged
awwarma | 421 other reviews | Jul 1, 2024 |
A group of stories all set in Kittur, an Indian town in the state of Karnataka. Many of the protagonists find themselves at the bottom of the social ladder, but not all. What binds them together is the factors from which they cannot escape: their caste, their social contacts or lack of them. This book will have you understand how poverty corruption and fear smell and taste. It will have you understand how the role into which you are born is that which will define you throughout your life, however much you strive against it. An illuminating and involving book, and ultimately a depressing one, which I was glad to finish.… (more)
 
Flagged
Margaret09 | 26 other reviews | Apr 15, 2024 |
(8.5) This book is formatted in the style of a letter the Chinese Premier,Jiabao, who is shortly to visit India. The author of this letter Balram Halwai, considers himself a successful entreprneur having managed to raise himself out of the circumstances he was born into in a small rural village. He and his family were considered servants and Halwai through close observation of humanity gradually elevates himself by fear means and foul.
Wwith this method of presentation, the recipient of this letter and the reader are exposed to the underbelly of Indian life. It is related in a satirical manner, providing both humour and pathos.
It is his debut novel and won the Man Booker in 2008.
… (more)
 
Flagged
HelenBaker | 421 other reviews | Mar 25, 2024 |
"India adalah negara yang dicetak oleh para manusia setengah matang."

Sesuai dengan blurb, The White Tiger menceritakan tentang pria bernama Balram yang membunuh majikannya sendiri. Balram adalah seorang sopir yang sejak kecilnya putus sekolah hingga bekerja serabutan — menjadi pemukul batu bara, manusia laba-laba, dan pelayan di warung teh. Dia kemudian kursus menjadi sopir untuk kemudian bekerja bersama Ashok. Ashok sendiri sama-sama berasal dari desa kumuh yang sama dengan Balram, tetapi nasib mereka berbeda. Ashok begitu dihormati Balram sampai kemudian dia memutuskan menggorok majikannya sendiri.
Kisah Balram secara sekilas menarik karena menggambarkan kesenjangan sosial dan kondisi carut-marut India. Namun secara tersurat Aravind Adiga menuliskan kritik terhadap Islamofobia yang begitu kuat di India.
Secara blak-blakan, penulis mengatakan empat penyair terbaik di dunia adalah penyair Muslim. Lewat sudut pandang Balram, penulis mengatakan ada tiga penyair Muslim yang dia hormati di dunia, antara lain Rumi, Iqbal, dan Mirza Ghalib. Bahkan, Balram terngiang-ngiang syair salah satu dari mereka:

"Sudah bertahun-tahun kau mencari kuncinya / Padahal pintunya selalu terbuka!"

Aravind Adiga seakan-akan mengatakan secara halus bahwa kesalahan India sulit maju (saat bukunya ditulis) adalah karena mengesampingkan kaum Muslim di tanah mereka. Warga India masih saja bagaikan kaum tersesat yang membutuhkan keajaiban di depan mata untuk bisa bergerak maju, padahal keajaiban itu hadir dalam bentuk umat Muslim di sekitarnya.
Namun sesuai dengan babak akhir buku, tercerminlah bagaimana India akan terus bergerak: berusaha maju dengan konstruksi Islamofobia.
… (more)
 
Flagged
awwarma | 421 other reviews | Jan 24, 2024 |

Lists

Awards

You May Also Like

Associated Authors

John Lee Narrator
Santiago del Rey Translator
Ingo Herzke Übersetzer

Statistics

Works
8
Also by
1
Members
12,000
Popularity
#1,954
Rating
½ 3.7
Reviews
517
ISBNs
223
Languages
21
Favorited
5

Charts & Graphs