Picture of author.

Dewi Lestari

Author of Paper Boats

17 Works 206 Members 8 Reviews

About the Author

Series

Works by Dewi Lestari

Paper Boats (2017) 57 copies, 1 review
Supernova: Akar (Supernova) (2002) 21 copies, 1 review
Perahu kertas (2009) 21 copies, 2 reviews
Supernova : Petir (2004) 15 copies, 1 review
Madre (Kumpulan Cerita) (2011) 9 copies
Partikel (2001) 7 copies
Supernova (2011) 5 copies
Recto Verso (2008) 3 copies, 1 review
Rapijali (2021) 3 copies
Partikel 1 copy

Tagged

Common Knowledge

Legal name
Lestari, Dewi
Other names
Lestari, Dee
Birthdate
1976-01-20
Gender
female
Nationality
Indonesia
Associated Place (for map)
Indonesia

Members

Reviews

8 reviews
To celebrate their 10th anniversary together, Dimas, a writer, and Reuben, a scientist, collaborate on a novel loosely based on a children's story, "The Knight, the Princess, and the Falling Star". Elsewhere in Jakarta the love affair between Ferre, a businessman, and Rana, a married magazine writer, echoes the events in their novel, or is their novel echoing the affair?

Dewi Lestari has fun playing with concepts from quantum physics, chaos theory, and Jungian synchronicity. Linguistically, a show more bit over my head at times, but I enjoyed it anyway. show less
½
I don't think I've ever read another book set in Indonesia and I am not familiar with the fairy tales of the culture, but I suspect that Lestari's book is meant to feel like one to readers who are familiar with them. She also hits all of the tropes of the romance genre here with boy meets girl, they are kept apart because of misunderstandings and other reasons, they renew their friendship and this time nothing stands in their way. It's all very charming if not quite as centered on place as I show more was hoping.

Keenan's parents have called him home from Amsterdam where he has been living with his grandmother for quite a few years, telling him that it's time he go to university and prepare to take over his father's business rather than continue to dream of a life as a painter. Although he doesn't want to give up his dream and is quite a skilled artist, he is a dutiful and loyal son so he returns as requested, meeting his cousin, his cousin's girlfriend, and the girlfriend's dear friend when they pick him up at the airport. He is immediately captivated by the friend, Kugy, who is outgoing, confident, and unconventional. It turns out they will be at university together and they quickly become close friends themselves. In fact, Kugy, who wants to write fairy tales, lets Keenan read what she has written so far, becoming Keenan's artistic muse. Over the next four years, Keenan and Kugy, who are in the same friend group at school, always miss out on being a couple and then finally lose track of each other as Kugy intentionally distances herself from the group. Both of them go on to try to work in the conventional jobs expected of them even though their respective artistic dreams still haunt them. Their misunderstandings and trouble communicating with each other keep them apart despite the fact that they are clearly perfect for each other and need to be together for their artistic sides to bloom and flourish.

The novel feels like a YA chick lit kind of book and the decisions made by some of the characters are wildly frustrating. But then the reader remembers that they are all so very young and so probably realistically drawn despite the frustrations. There didn't seem to be much grounding this in Indonesian culture although the conceit of Kugy writing her dreams out, folding the paper into paper boats, and sending the dreams out to sea via whatever body of water she could find was rather enchanting. Keenan as a character comes across as very naive and despite his life experiences, he still seems to be mostly so at the end of the book. For both of them, the interpersonal relationships with the secondary characters causes some of the plot tension here but they were quite easily solved in the end. Over all a light and sweet book but perhaps just a bit too easy for all that.
show less
Ada sebelas lagu dan sebelas kisah pendek di dalamnya. “Recto Verso” bercerita tentang hati dan perasaan tiap tokohnya, dengan narasi yang lembut dan pilihan kata yang menarik. Beberapa cerpen ditulis dalam bahasa Inggris, namun masih bisa dengan mudah dipahami. Sisanya, diceritakan daam bahasa Indonesia yang cukup puitis. Sepuitis lirik lagu-lagunya. Bagiku, hanya sedikit dari penulis wanita Indonesia yang bergaya bahasa puitik dengan pilihan kata yang menyentuh hati begini. Dan show more setahuku, hanya Dee yang pernah menggabungkan kepuitisan lagu-lagu yang ditulisnya dengan keindahan rangkaian kata dalam kisah-kisahnya.

Buku kumpulan cerpen ini dibuka dengan kisah berjudul “Curhat buat Sahabat”. Mengisahkan tentang persahabatan seorang perempuan dan lelaki yang telah berjalan demikian lama. Saking eratnya persahabatan mereka, ketika sang perempuan jatuh cinta pun, sahabat lelakinya tetap setia mendengarkan. Demikian pula ketika sang perempuan jatuh sakit, hanya sahabat lelakinya yang mau berhujan-hujan membawakan obat untuknya. Sementara lelaki yang dia cintai tak pernah sedikit pun peduli. Di situlah sang perempuan lalu sadar akan cintanya yang telah sia-sia menunggu pangeran yang tak kunjung menaruh perhatian padanya.

Bagi yang pernah mendengar lagunya, kisah “Malaikat Juga Tahu” rasanya sudah tidak asing lagi. Berkisah tentang persahabatan seorang lelaki autis dengan seorang perempuan normal. Suatu kali tibalah waktunya bagi perempuan itu jatuh cinta dan meninggalkan sahabatnya. Tentu saja hal itu menjadi pukulan hebat bagi si lelaki, dan ironisnya, juga menjadi rasa pilu berkepanjangan bagi ibunya.

Kisah “Selamat Ulang Tahun” pendek saja. Hanya dua halaman tak sampai. Menggambarkan kegelisahan seseorang yang menunggu kekasihnya yang saat itu tengah berulang tahun. Kenapa dia belum datang? Padahal biasanya sang kekasih adalah pribadi yang selalu tepat waktu, begitu terencana dan sangat menghargai momentum.

Ketika seseorang yang kita cintai telah tiada, kadang mereka tak benar-benar pergi dari kehidupan kita. Demikian mungkin pesan yang hendak disampaikan kisah “Aku Ada”. Diambil dari sudut pandang seorang perempuan yang telah meninggal dunia, ia begitu ingin meredakan kesedihan kekasihnya bahwa dia tak benar-benar hilang. Bahwa perempuan itu masih ada disampingnya dan berjalan bersamanya di pinggir pantai yang sama.

“Hanya Isyarat” menggambarkan betapa rasa cinta tak selalu ujungnya berakhir pada niatan memiliki secara penuh. Karena ketika berada begitu dekat dengan orang yang dicintai, sang tokoh utama justru merasa tidak begitu nyaman. Ia merasa jauh lebih menyenangkan dengan memandang punggung sosok yang dicintainya, dan duduk tersembunyi diantara gemerlap lampu cafe. Memastikan warna matanya saja, itu sudah cukup.

Jika kata-kata tak mampu meyakinkan sang kekasih, barangkali sebuah pelukan mampu mengungkapkan segalanya dengan lebih baik. Cerpen “Peluk” mencoba mengisahkan keadaan itu. Ketika rasa cinta sang perempuan tak lagi sama. Ketika hubungan mereka terasa begitu datar dan buntu, sang perempuan merasa inilah saatnya untuk mengakhiri semuanya. Hal yang sama sekali tak bisa dipahami kekasihnya, seberapa keras pun sang perempuan mencoba menjelaskan padanya.

“Grow a Day Older” bercerita tentang konflik bathin seorang perempuan akan hubungan tersembunyinya dengan seorang lelaki. Candu cinta itu menyenangkan. Namun jauh di dasar hatinya, ia tahu hubungan itu harus segera dihentikan. Titik itu akhirnya jatuh di hari uang tahun sang lelaki. Ketika perempuan itu mendatangi tempat kerja kekasihnya dan memberikan hadiah terakhir padanya.

Bagaimana jika cintamu ternyata justru segitiga dengan sahabat sendiri? Dan ketika menerima kenyataan bahwa kamu kalah dalam perebutan cinta, apa yang akan kamu lakukan? Dalam kisah “Cicak di Dinding”, seorang pelukis muda jatuh cinta pada seorang perempuan pengagum seni. Sayangnya perempuan itu justru menikah dengan sahabatnya, yang adaah seorang kurator. Sang pelukis pun melukis sejumah cicak di dinding studio perempuan yang dicintainya itu dengan menggunakan cat berpendar. “Untuk menjagamu,” katanya, lalu pergi.

Untuk apa mengetahu hal yang akan terjadi jika ternyata kita tak bisa mengubahnya? Demikian pemikiran yang muncul di benak tokoh utama cerpen ini. Ironi jadi mencapai puncaknya ketika ia merasakan firasat tidak menyenangkan tentang lelaki yang sangat dicintainya. Hujan deras, gemuruh dan badai mengakhiri kisah ini. Membawa pembaca pada tanda tanya besar usai membacanya.

Usai merampungkan karirnya di luar negeri selama 2 tahun, perempuan itu kembali ke tanah air dan pulang ke rumahnya, tempat suami dan anak-anaknya menunggu. Namun perempuan dalam kisah “Tidur” ini merasakan ketidaksiapan yang teramat sangat sehingga ia harus berkeliling dulu. Sebelum akhirnya benar-benar pulang ke rumah, mendapati seluruh keluarganya sedang tertidur.

Dalam “Back to Heaven’s Light”, ketegaran seorang wanita yang ditinggal mati suaminya menjadi fokus cerita. Ketika pidato memorial, wanita itu justru tersenyum kepada hadirin. Ketegarannya itu ternyata malah mengundang tanya sejumlah kerabat. Banyak yang bahkan mengira wanita itu begitu depresi sampai jadi aneh begitu. Belakangan baru wanita itu bicara, bahwa suaminya memang pernah bermimpi buruk sebelumnya. Ia hilang di tengah laut. Tapi kemudian menemukan sebuah cahaya dari langit yang mengantarkannya kembali ke pelukan sang istri.

Cerpen-cerpen dalam buku kumpulan cerpen ini tak hanya cerdas dalam pengolahan ide cerita. Namun gaya penceritaannya pun sperti ambigu, mengundang pembaca untuk berinterpretasi dengan imajinasinya sendiri. Sehingga tak heran jika dalam beberapa kisah, tiap-tiap pembaca barangkali tidak menangkap esensi yang sama. Sayangnya, kadang karena kerancuan alur dan ketidakjelaskan identitas tokoh, sesekali jadi muncul kerancuan dalam cerita. Jadi, tak khayal seringkali berakhir dengan ketidakpastian dan kurangnya greget. Agak seperti membaca curhat diary.
show less
As usual with this series, this was a bit of a struggle because it is written in Indonesian and uses a lot of vocabulary from semantic fields I don't really come across much at work. A colleague did mention that the author is well-known for her "experimental" language, so no doubt that was part of it. I will continue with the rest of the series, but I think I deserve a simpler read next.

Awards

You May Also Like

Associated Authors

Tiffany Tsao Translator

Statistics

Works
17
Members
206
Popularity
#107,331
Rating
½ 3.5
Reviews
8
ISBNs
30
Languages
2

Charts & Graphs